Ihsan Magazine - Menyalakan Api Dengan Es adalah sebuah trik yang bisa kita gunakan apabila kita dalam situasi darurat dalam survival di suatu tempat dimana kita tidak membekali diri dengan alat pembakar, misalnya korek api, sementara kita membutuhkan api untuk memanaskan air ataupun makanan. Dan untuk hal tersebut, kita bisa menggunakan es sebagai sumber api.
Sebenarnya tehnik ini diambil dari prinsip bagaimana kita memfokuskan sinar dengan sebuahlensa. Apabila kita sewaktu kecil pernah bermain lup, kaca pembesar, kurang lebih tehniknya seperti itu. Kita menyalakan api dengan memfokuskan sinar Matahari melalui es yang nantinya di fungsikan sebagai kaca pembesar.
Untuk membuat kaca pembesar itu, ambilah es dengan ukuran yang sedikit lebih besar. Lalu usap usapkanlah di kain atau lantai, bentuk menjadi seperti kaca cembung. Hati - hati, mungkin tangan Anda bisa kedinginan nantinya, gunakan kain atau sarung tangan nantinya ketika membentuk es menjadi kaca cembung.
Setelah itu, siapkan kertas atau potongan daun yang kering. Targetkan ia dengan es yang tadi kita bentuk lalu arahkan di Matahari. Dan hati - hati juga tangan Anda yang memegang es, bisa kedinginan. Gunakan kain atau sarung tangan. Bersabarlah untuk menunggu
Ihsan Magazine - Kepercayaan orang Barat bahwa musik terutama mozart dapat meningkatkan kecerdasan sudah diyakini sejak tahuan 1950-an, mitos ini kemudian diteliti secara lebih serius pada tahun 1990-an.
36 siswa dalam sebuah studi di University of California di Irvine mendengarkan 10 menit sonata Mozart sebelum mengambil tes IQ.
Menurut Dr Gordon Shaw, psikolog yang bertanggung jawab atas penelitian ini, skor IQ siswa naik sekitar 8 poin akibat dirangsang oleh alunan ajaib musik Mozart, sejak itulah istilah “Mozart effect ” lahir.
Bahkan di dalam negeri, tahun 2002 Hermanto Tri Juwono dan timnya pernah mencoba pada tikus hamil. Hermanto dkk., memperdengarkan musik klasik Mozart, gamelan sampai dangdut. Setelah distimulasi seperti itu, pertumbuhan sel-sel otak bayi dan ibu tikus diteliti. Hasilnya musik Mozart memberi peningkatan jumlah sel lebih tinggi. Musik gamelan nomor dua tertinggi, sedangkan musik dangdut peningkatannya paling rendah.
Namun setelah bertahun-tahun, orang mulai ragu akan kesahihan dari ‘Mozart effect’ ini dan penelitian tandingan yang menghasilkan kesimpulan kontradiktif dengan kesimpulan diatassudah dilakukan. Beberapa peneliti dari University of Vienna, Austria yakni Jakob Pietschnig, Martin Voracek dan Anton K. Formann dalam riset mereka yang diberi judul “Mozart Effect” mengemukakan kesalahan besar dari hasil penelitian musik yang melegenda ini. Pietschnig dan kawan-kawannya mengumpulkan semua pendapat dan temuan para ahli terkait dampak musik Mozart terhadap tingkat intelegensi seseorang.Mereka membuat riset yang melibatkan 3000 partisipator, hasil penelitiannya adalah ; ‘tidak ada stimulus atau sesuatu yang mendorong peningkatan kemampuan inteligensi seseorang setelah mendengarkan musik Mozart.’
Tim peneliti dari Jerman yang terdiri atas ilmuwan, psikolog, filsuf, pendidik, dan ahli musik juga mengadakan penelitian serupa, mereka mengumpulkan berbagai literatur dan fakta mengenai efek mozart ini. Dan hasil penelitiannya ; ‘Sangat tidak mungkin mozart dapat membuat seorang anak menjadi jenius.’
Howstuffwork sebuah situs yang terkenal memaparkan bahwa musik klasik seperti karya mozart tidak akan membuat seseorang lebih cerdas. Dalam situsnya, masalah ini dimasukan sebagai salah satu point dalam artikel yang berjudul ;‘10 mitos tentang otak.’
Bahkan Dr Frances Rauscher, seorang peneliti yang terlibat dalam studi di Universitas California di Irvine –yang melahirkan istilah “Mozart Efect”– yang telah menjadi kontroversi dalam komunitas ilmiah ini juga menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengklaim itu benar-benar membuat orang pintar, tetapi hanya meningkatkan kinerja pada tugas-tugas spasial-temporal tertentu.
Sekarang kita mengetahui bahwa musik Mozart –dan sebetulnya semua musik yang memiliki alunan nada yang menenangkan (kecuali musik dangdut sepertinya-red)– hanya diyakini dapat menimbulkan efek psikologis seperti bergairah, tenang atau damai. Dan kondisi psikologis ini memang positif dalam merangsang pertumbuhan sel otak. Psikolog Rose Mini menambahkan bahwa yang terpenting bukan musiknya, namun ketenangan yang didapat oleh seorang ibu yang kemudian ditularkan kepada si bayi sejak dalam kandungan.
Lise Eliot,
Ph.D, pakar biologi dan anatomi sel Chicago Medical School AS, mengatakan, perkembangan struktur otak bayi lebih dipengaruhi; pola diet, gaya hidup dan kondisi emosi ibu hamil. Efek musik memang diakui sebagai stimulus psikologis / emosional yang baik.
Jadi musik diakui meningkatkan kecerdasan, namun secara tidak langsung yaitu dengan efeknya yang menenangkan sehingga syarat psikologis dan emosional sang ibu memenuhi syarat untuk menciptakan suasana dan lingkungan rahim yang kondusif untuk pembangunan dan pertumbuhan otak sang janin. Stimulan serupa juga didapati pada Al-Quran, diyakini juga bahwa Al-Quran membawa pengaruh-pengaruh positif lain yang luar biasa disebabkan oleh sumber Al-Quran yang ilahiah, dan juga berdasarkan banyaknya kesaksian orang-orang yang merasakan pengaruh Al-Quran secara langsung maupun tak langsung. Keyakinan ini terus diupayakan diteliti sehingga dapat dijelaskan lebih baik dalam ranah ilmiah.
Sudah diteliti dan didapati fakta bahwa memperdengarkan Al-Quran kepada bayi akan meningkatkan tingkat inteligensia sang bayi. Dr. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitian ini dalam sebuah seminar konseling dan psikoterapi Islam.
Setiap suara atau sumber bunyi memiliki frekuensi dan panjang gelombang tertentu. Dan ternyata, bacaan Al-Qur’an yang dibaca dengan tartil yang bagus dan sesuai dengan tajwid memiliki frekuensi dan panjang gelombang yang mampu mempengaruhi otak secara positif dan mengembalikan keseimbangan dalam tubuh.
Bacaan Al-Qur’an memiliki efek yang sangat baik untuk tubuh, seperti; memberikan efek menenangkan, meningkatkan kreativitas, meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan kemampuan konsentrasi, menyembuhkan berbagai penyakit, menciptakan suasana damai dan meredakan ketegangan saraf otak, meredakan kegelisahan, mengatasi rasa takut, memperkuat kepribadian, meningkatkan kemampuan berbahasa, dan lain sebagainya.
Kalau musik klasik disimpulkan dapat mempengaruhi kecerdasan melalui pengaruh positifnya terhadap stimulan psikologis dengan efektivitas sebesar 65% maka seharusnya Al-Quran yang adalah Kalamullah bisa lebih baik lagi. Al-Qur’an tetaplah obat dan terapi serta stimulan yang terbaik.
Ibu yang cerdas menganggap bahwa rahimnya adalah ruang kelas pertama bagi anaknya, bukan hanya sekedar ruang tunggu bagi janin sampai ia siap dilahirkan ke dunia ini. Para ahli menyatakan bahwa kondisi kejiwaan sang ibu juga sangat mempengaruhi watak dan kecerdasan bayinya. Dalam kondisi stress tubuh sang ibu akan memproduksi hormon kortisol dalam jumlah berlebihan sehingga ini akan memicu tekanan darah meninggi, dada terasa sesak, dan emosi menjadi tidak stabil. Hormon kortisol ini bisa merambat ke bayi melalui plasenta sehingga mempengaruhi pembuluh darah sang janin, akibatnya sang janinpun ikutan stress. Bila ini terjadi terus-menerus dapat menyebabkan sang anak kelak menjadi orang yang rentan stress. Inilah pentingnya ibu yang sedang hamil memperbanyak berdzikir, sebab manfaat berdzikir yang pertama adalah menciptakan ketenangan batin, dan dzikir yang paling utama adalah menghafal, membaca, dan mempelajari Al-Quran Al-Kariim.[]
Ihsan Magazine - Pada suatu hari Raja Harun Ar-Rasyid sedang galau dengan sikap Abu Nawas. Beberapa kali Abu Nawas telah membuatnya malu di depan para pejabat kerajaan. Berlatar belakang dendam inilah akhirnya Raja hendak membuat jebakan terhadap Abu Nawas. Jika Abu Nawas gagal menghadapi jebakan tersebut, maka hukuman akan diberikan kepadanya.
Maka dipanggillah Abu Nawas untuk menghadap Raja Harun Ar-Rasyid. Setelah melewati beberapa prosedur, sampai juga Abu Nawas di istana kerajaan. Sang raja lalu memulai pertanyaannya,
"Wahai Abu Nawas, di depan mejaku itu ada sepanggang daging ayam yang lezat dan enak dilahap, tolong segera ambilkan."
Abu Nawas tampak bingung dengan perintah tersebut, karena tak biasanya dia disuruh mengambilkan makanan raja.
"Mungkin raja ingin menjebakku, aku harus waspada," kata Abu Nawas dalam hati.
Mendapat Petunjuk yang Aneh
Abu Nawas pun akhirnya menuruti perintah itu. Setelah mengambil ayam panggang sang raja, Abu Nawas kemudian memberikannya kepada raja. Namun, sang raja belum langsung menerimanya, ia bertanya lagi,
"Abu Nawas, di tangan kamu ada sepotong ayam panggang lezat, silahkan dinikmati."
Begitu Abu Nawas hendak menyantap ayam panggang tersebut, tiba-tiba raja berkata lagi,
"Tapi ingat Abu Nawas, dengarkan dulu petunjuknya. Jika kamu memotong paha ayam itu, maka aku akan memotong pahamu dan jika kamu memotong dada ayam itu, maka aku akan memotong dadamu. Tidak hanya itu saja, jika kamu memotong dan memakan kepala ayam itu, maka aku akan memotong kepalamu. Akan tetapi kalau kamu hanya mendiamkan saja ayam panggang itu, akibatnya kamu akan aku gantung."
Abu Nawas merasa bingung dengan petunjuk yang dititahkan rajanya itu. Dalam kebingungannya, ia semakin yakin jika hal itu hanya akal-akalan Raja Harun saja demi untuk menghukumnya. Tidak hanya ABu Nawas saja yang tegang, tapi juga semua pejabat kerajaan yang hadir di istana tampak tegang pula. Mereka hanya bisa menebak dalam hati tentang maksud dari perintah rajanya itu.
nah,pertanyaannya adalah,apakah yang harus dilakukan abu nawas?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina“. (QS. Al Baqoroh : 65)
Ihsan Magazine - Abu Kuraib bercerita kepada kami berkata, Utsman bin Said berkata, Basyar bin Imaroh dari Abi Rouq dari adh Dhahak dari Ibnu Abbas : “Dan Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu.”
Berkata,”Sesungguhnya kamu telah mengetahui.” Ini adalah peringatan bagi mereka terhadap kemaksiatan. Dia berkata,”Waspadalah terhadap musibah yang dialami orang-orang pada hari sabtu menimpa kalian tatkala mereka maksiat terhadap-Ku, mereka melampaui batas—dia berkata : melanggar—pada hari sabtu.
Dia berkata,”Allah tidak mengutus seorang nabi kecuali Dia memerintahkan untuk (mengagungkan) hari jum’at. Dia memberitahukannya akan keutamaan dan keagungannya di langit dan dikalangan malaikat dan sesungguhnya hari kiamat terjadi pada hari jum’at. Orang-orang yang mengikuti para Nabi yang telah berlalu sebagaimana umat Muhammad mengikuti Muhammad saw mereka menerima (pengagungan) hari jum’at lalu mendengar dan menaatinya, mengetahui keutamaannya sebagaimana Allah memerintahkan hal itu kepada Nabi-Nya (Muhammad) saw. Dan barangsiapa yang tidak melakukannya maka dia termasuk kedalam orang-orang yang disebutkan Allah didalam kitab-Nya :
Artinya : “Dan Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”. (QS. Al Baqoroh : 65)
Hal itu karena orang-orang Yahudi berkata kepada Musa—tatkala mereka diperintahkan (mengangungkan) hari jumat dan dia memberitahukan keutamaannya kepada mereka–,”Wahai Musa, mengapa engkau perintahkan kami (mengagungkan) hari jum’at dan melebihkannya terhadap semua hari. Dan hari sabtu lebih utama dari hari-hari lainnya karena Allah telah menciptakan langit, bumi dan makanan dalam enam hari, hari sabtu adalah untuknya serta segala sesuatu tunduk pada hari sabtu dan ia adalah hari terakhir dari hari yang enam? Dia berkata,”Demikian pula perkataan orang-orang Nasrani kepada Isa bin Maryam—tatkala mereka diperintahkan (mengagungkan) hari jum’at—mereka berkata kepada Isa,”Mengapa engkau perintahkan kami (mengagungkan) hari jum’at padahal hari pertama adalah yang paling utama dan tuannya hari-hari. Dan yang pertama adalah yang paling utama. Allah adalah satu, dan satu yang pertama adalah yang paling utama?
Lalu Allah mewahyukan kepada Isa : Jadikanlah bagi mereka hari ahad akan tetapi hendaklah mereka melakukan ini dan itu di hari itu—seperti yang diperintahkan kepada mereka namun mereka tidak melakukan yang dikisahkan Allah tentang kisah-kisah mereka didalam al Kitab tentang kemaksiatan mereka. Dia mereka,”Demikian pula Allah berfirman kepada Musa—tatkala orang-orang Yahudi mengatakan kepadanya sebagaimana perkataan mereka tentang perkara di hari sabtu–,’Jadikanlah buat mereka hari sabtu, maka janganlah mereka menjala ikan dan yang lainnya pada hari itu akan tetapi sedikit pun mereka tidak melakukannya (melanggarnya) sebagaimana perkataan mereka.” Dia berkata,”Pada hari sabtu tampaklah ikan-ikan diatas permukaan air, yaitu firman-Nya :
Artinya : “Di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air.” (QS. Al A’raf : 163)
Tatkala mereka melihat ikan-ikan tersebut maka mereka pun berambisi untuk menangkapnya namun takut akan sangsinya. Sebagian dari mereka melakukannya dan tidak manahan dirinya namun tetap waspada terhadap sangsi yang pernah diingatkan oleh Musa dari Allah swt.
Tatkala mereka menyaksikan bahwa sangsi tersebut tidak menimpa mereka maka mereka pun kembali melakukannya. Sebagian mereka memberitahu sebagian yang lainnya bahwa mereka telah menangkap ikan namun tak suatu musibah pun menimpa mereka maka mereka pun semakin sering melakukannya dan menganggap bahwa apa yang dikatakan Musa kepada mereka adalah tidak betul, yaitu perkataan Allah swt :
Artinya : “Dan Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”. (QS. Al Baqoroh : 65)
Lalu Allah merubah mereka menjadi kera dikarenakan maksiat mereka. Dia berkata,”Mereka tidak hidup di bumi kecuali hanya tiga hari. Tidak makan, tidak minum dan tidak berketurunan. Sungguh Allah telah menciptakan kera, babi dan seluruh makhluk dalam enam hari yang disebutkan didalam kitab-Nya. Allah merubah kaum ini dalam bentuk kera. Demikianlah Dia berbuat terhadap orang yang dikehendaki-Nya sebagaimana apa yang dikehendaki-Nya dan merubahnya sebagaimana kehendak-Nya.” (Jami’ al Bayan fii Ta’wil al Qur’an juz II hal 167 – 168)